Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Mulai Beroperasi pada 2016

PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan PT Gondang Tua Jaya dan Solena Fuels Corporation dalam membuat detail studi kelayakan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Pembangkit listrik yang rencananya berkapasitas 138 megawatt ini akan mengubah 2.000 ton sampah per hari menjadi listrik.

“Rencananya, pembangkit ini akan menghasilkan 138 megawatt, tapi yang dijual ke PLN sebanyak 120 megawatt. Sisanya untuk penggunaan sendiri,” kata Direktur Pertamina Karen Agustiawan dalam konferensi pers penandatanganan joint development agreement (JDA) dengan PT Godang Tua Jaya dan Solena Fuels Corporation, Jumat pecan lalu.

Ia mengharapkan perjanjian jual-beli listrik dengan PLN dapat ditandatangani dalam waktu 8-12 bulan ke depan. Jika perjanjian dapat ditandatangani sekitar akhir tahun ini, pembangunan bisa dimulai pada 2014. “Kami harapkan pada 2014 sudah ada perjanjian kerja sama (JDA) yang jelas sehingga 2016 listrik mulai mengalir,” kata Karen.

Investasi di PLTSa ini sesuai dengan rencana Pertamina dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan. Pengembangan PLTSa ini diharapkan bisa membantu menyelesaikan masalah pembuangan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi sampah.

Pengembangan PLTSa ini akan menggunakan teknologi integrated plasma gasification combine cycle. Executive Vice President Solena Yves Bannel menyatakan teknologi ini ramah lingkungan dan tidak menghasilkan zat sisa.

Proyek ini diperkirakan akan menelan investasi US$ 250-300 juta. Selain di Jakarta, Pertamina berencana mengembangkan PLTSa di Sulawesi.

Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, pengelola Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang, Rekson Sitorus, menyatakan setiap hari ada 5.300-6.000 ton sampah yang masuk ke Bantargebang. Dari jumlah tersebut, baru 2.000 ton yang selama ini diolah menjadi pupuk organic, bijih plastik, maupun energi listrik. (BERNADETTE CHRISTINA)

Koran Tempo