Sanitary Landfill

Pemanfaatan sampah merupakan salah satu isu strategis dalam penyediaan energi berbasis sumber energy setempat. Sanitary landfill merupakan salah satu teknologi pengelolaan sampah terpadu dengan kemampuan untuk mengontrol limbah cair (leachate) dan limbah gas (metan).

Di Indonesia jumlah TPA sampah kurang lebih sekitar 460 lokasi dengan potensi sampah sekitar 23.204 Ton per hari atau setara dengan kapasitas pembangkit listrik 279 MW. Gas metan yang dihasilkan dari sistem ini bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bencana yaitu ledakan gas metan, sehingga perlu dimanfaatakan salah satunya sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Dengan demikian di samping gasnya dapat dimanfaatkan, kegiatan ini juga dapat mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), sehingga dapat menghambat terjadinya pemanasan global.

Penelitian tentang pemanfaatan gas metan dari sistem Sanitary Landfill telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBT-KE)  yang bertujuan untuk mendapatkan teknologi pemanfaatan sampah untuk pembangkit listrik dengan biaya yang relatif murah dengan menggunakan komponen dalam negeri sebanyak mungkin. Saat ini pembangkit listrik tenaga sampah baru ada di dua lokasi yaitu Bantar Gebang dan Suwung Bali. Namun peralatan dan mesin pada kedua pembangkit tersebut masih impor serta memiliki biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu P3TKEBT- KE sebagai lembaga litbang melakukan suatu inovasi pembangkit listrik sampah dengan sebanyak mungkin menggunakan komponen dalam negeri dengan kapasitas kecil. Dengan demikian diharapkan pilot project ini dapat dipakai sebagai percontohan untuk TPA sampah yang lain.