Bio FGD

Penggunaan batubara untuk bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, sejalan dengan peningkatan produksi listrik dan penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara. Menurut proyeksi dari PLN, pada tahun 2025 pembangkit listrik berbahan bakar batubara akan meningkat menjadi sekitar 74,1% dari total penggunaan bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik Indonesia. Permasalahannya adalah sebagian besar dari total cadangan batubara Indonesia mempunyai kandungan sulfur di atas 0,44% (m/m) dan apabila dibakar akan mengeluarkan emisi sulfur dioksida (SO2) lebih dari 750 m3, hal ini melampaui nilai baku mutu emisi menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13/MENLH/3/1995 yang berlalu efektif tahun 2000.

PLTU yang menggunakan batubara berkadar sulfur di atas 0,44% perlu melakukan penanganan emisi SO2 agar tidak melampaui  baku mutu emisi. Untuk mengurangi emisi SO2 dan dampak negatif dari penggunaan batubara pada PLTU, perlu dikembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan ekonomis untuk penanganan gas buang tersebut. Salah satu upaya yang telah banyak digunakan di negara-negara maju untuk penanganan emisi SO2 PLTU ini adalah penggunaan teknologi flue gas desulfirization (FGD) dengan memanfaatkan absorben kimiawi. Meskipun teknologi ini dapat mengurangi emisi SO2, metode ini masih memiliki keterbatasan yaitu menghasilkan buangan absorben yang telah digunakan. Pembuangan absorben tersebut selain menimbulkan polutan sekunder juga berbahaya bagi lingkungan karena masih mengandung sulfat. Selain itu teknologi FGD ini memerlukan biaya investasi dan biaya operasional cukup tinggi sehingga akan berdampak terhadap harga jual listrik yang tinggi pula.

Teknologi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan diperkirakan lebih ekonomis adalah teknologi Bio-FGD dengan penggunaan mikroba untuk mengubah SO2 menjadi sulfur elementer, yang lebih dikenal dengan teknologi bioproses. Teknologi Bio-FGD disamping ramah lingkungan, juga memberikan nilai ekonomi yang tinggi dari hasil produk sampingannya berupa sulfur elementer (So).