Berita

Pada hari Selasa, tanggal 24 Juli 2018 telah diadakan Focus Group Discussion dengan tema “Pengembangan Data Base untuk Potensi dan Rantai Industri EBT serta Pemanfaatannya untuk Pembangkit Listrik (Studi Kasus Provinsi Riau)” di Fox Harris Hotel, Pekanbaru, Riau. Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai instansi pemerintah di lingkungan Provinsi Riau (dinas ESDM, KOMINFO, PMPTSP, KKP, LHK, Balitbangda, Bappeda, BPN dan BMKG), Tim BLU P3Tek-KEBTKE KESDM, DJEBTKE KESDM dan UNDP.

Diskusi ini dilatarbelakangi oleh keinginan dalam rangka mendukung Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi GRK melalui pelaksanaan RAN-GRK dan RAD-GRK yang efektif di sektor energi.  Saat ini UNDP Indonesia bersama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menjalankan Proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in Energy Sector (MTRE3).

BLU P3TeK-KEBTKE dalam hal ini berperan sebagai pelaksana salah satu proyek MTRE3 yang menjalankan kegiatan “Pengembangan Data untuk Potensi dan Rantai Industri Energi Baru Terbarukan serta Pemanfaatannya untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus di 4 (empat) Provinsi Percontohan MTRE3”.


Beberapa hal yang menjadi pokok bahasan dalam diskusi ini adalah mengenai data potensi EBT untuk 6 (enam) komoditi (meliputi angin, surya, mikro hidro, biomassa, panas bumi dan laut), informasi PLT EBT, konsumsi energi, proyeksi pembangkit berbasis EBT, ketersediaan/status lahan, infrastruktur dan rencana survey lapangan di Provinsi Riau. Diskusi ini menghadirkan 4 (empat) orang narasumber sebagai berikut :

-    Trois Dilisusendi, ST, ME dari Direktorat Bioenergi  DJEBTKE – KESDM

-    Irwan Suherman Hidayat dari Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL) - KESDM

-    Agustian dari PT. PLN Wilayah Riau dan Kepri

-    Irwan Wahyu Kurniawan, ST, M.Si dari Direktorat Panas Bumi DJEBTKE – KESDM


Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

Berdasarkan data sekunder (peta energi angin indikatif), kecepatan rata-rata angin di Provinsi Riau berada di batas bawah kelas 3 Skala Beaufort sehingga tidak bisa dikembangkan untuk PLT Angin. Untuk selanjutnya tidak perlu dilakukan survey untuk verifikasi data potensi energi angin.

Berdasarkan peta potensi energi surya (peta indikatif) menunjukkan bahwa Provinsi Riau memiliki potensi energi surya di wilayah Rokan Hulu dan Siak. Untuk selanjutnya survey lapangan difokuskan pada 2 (dua) daerah tersebut.

Berdasarkan peta potensi mikrohidro Pulau Sumatera (peta indikatif) menunjukkan bahwa Provinsi Riau memiliki potensi energi mikrohidro yang tersebar di beberapa titik seperti Kampar dan Rokan Hulu. Untuk selanjutnya survey lapangan difokuskan pada 2 (dua) daerah tersebut.

Berdasarkan peta potensi energi biomassa  (peta indikatif) menunjukkan bahwa Provinsi Riau memiliki potensi energi biomassa (kelapa sawit) yang tersebar hampir di seluruh wilayah Provinsi Riau. Untuk selanjutnya survey lapangan akan dilakukan di wilayah Kampar, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu.

Berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian ESDM, terdapat 4 lokasi potensi energi panas bumi di Provinsi Riau yang berada di Kampar, Rokan Hulu dan Kuantan Singingi.  Karena keterbatasan data studi dan nilai sumber daya spekulatif yang relatif kecil (temperatur rendah-menengah), maka potensi panas bumi yang ada di provinsi Riau tidak sesuai untuk dikembangkan sebagai PLTP atau pemanfaatan tidak langsung. Untuk selanjutnya tidak perlu dilakukan survey untuk verifikasi data potensi panas bumi.

Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL) telah melakukan pengukuran potensi energi arus laut di perairan Provinsi Riau pada dua lokasi yaitu Rokan Hilir dan Indagiri Hilir. Untuk selanjutnya survey lapangan difokuskan pada 2 (dua) daerah tersebut. (RM)

Share: